Pada tahun 2015, salah satu perusahaan ekspedisi di kota Padang yang bernama SAP Express hanya memiliki karyawan tidak sampai 10 orang. Awal 2017 ini, SAP Express cabang Padang sudah memiliki lebih dari 30 orang karyawan, dengan posisi keuangaan cabang yang sudah positif atau untung sejak 4 bulan yang lalu. Alhamdulillah pertumbuhan yang sangat kencang.

Hal ini didukung dengan semakin bertambahnya klien yang melakukan pengiriman dengan SAP Express. Saat ini, klien yang sering melakukan pengiriman berasal dari kota Padang, Payakumbuh, Pariaman, Bukittinggi dan Solok. Padahal, kota selain Padang tersebut belum memiliki kantor sendiri di daerah tersebut. Yang ada hanya kurir pick up dan kurir pengantaran saja. Kepercayaan yang tinggi membuat hal tersebut bisa terjadi.

Semakin bertambahnya klien di perusahaan ekspedisi, juga akan berdampak pada pertambahan jumlah karyawan, artinya semakin banyak jumlah SDM yang bisa di serap. Apalagi, untuk saat ini tidak hanya pertambahan karyawan saja, kesejahteraan karyawan juga semakin meningkat. Bertambah karyawan, akan juga memberikan efek kepada bertambah baiknya service yang diberikan SAP Express kepada kliennya. Tak heran, semakin banyak SDM dari perusahaan lain terkhusus perusahaan ekspedisi, melirik untuk dapat bekerja di perusahaan SAP Express.

Gencarnya pemasaran, dukungan yang full dari kepala cabang dan management pusat membuat hal ini terjadi. Apalagi management pusat banyak orang Padang di sana. Owner orang solo dan Istrinya orang Solok membuat perpaduan management yang unik dan semangat kerja yang kompetitif.

Sebuah kesenangan tersendiri, apabila suatu perusahaan dapat tumbuh dengan cepat dan mampu membuat keuntungan dengan cepat, serta dapat merekrut karyawan terbaik dan banyak secara massif di semua cabang dan lini perusahaan. Ya, itulah salah satu pengaruh positif dari sebuah perusahaan ekspedisi.    
Sungguh kacau Indonesia saat ini..Sejak pemerintahan saat ini berkuasa, banyak hal yang tidak lazim menjadi lazim. Banyak yang baik di fitnah, yang menentang di lengserkan atau di jebloskan ke balik terali penjara. Banyak juga berita yang rasanya tidak pada kebenaran yang sebenarnya. Entah lah, semoga Allah Swt melindungi Negara dan Bangsa Indonesia, serta menyelamatkan umat Muslim.

Saat ini saya tidak terlalu suka lagi dengan menonton siaran berita di televisi bahkan berita di media cetak atau pun media online. Berita yang disiarkan atau diterbitkan saya merasa ragu sumber kevalidannya. Meskipun begitu, saya masih mempercayaai sumber berita dari stasiun atau media cetak atau pun media online yang saya rasa masih menujunjung tinggi profesionalitas seorang jurnalis. Intinya, saat ini lebih baik saya menonton atau membaca tentang islam, tambah skill dari pada berita kondisi bangsa ini.

Meskipun begitu saya tetap berjuang sesuai aqidah saya, memantapkan keimanan, berjuang untuk merubah ekonomi keluarga lebih baik lagi, membantu orang disekeliling saya, apa pun lainnya yang bisa saya lakukan saat ini. Ya, semoga cobaan bangsa ini bisa segera berakhir dan saya pun kembali enak mendengar atau pun membaca berita yang positif, jujur dan tentunya yang menjadi sumber berita bisa amanah dengan jabatan yang diembannya saat ini.





Hai, siapa yang sedang pegang uang receh dalam jumlah banyak? hehehe...termasuk saya juga. 

Setiap hari, saya lebih senang belanja dengan uang pecahan besar, karena gak ribet. Beli sarapan atau makan siang yang biasanya 20 Ribuan, yang dikasihkan uang ke penjualnya uang pecahan 50 Ribu. Maka, pastinya akan terdapat uang receh 100, 500 atau 200 di dalam kembaliannya. Toh, kalau sudah sampai di rumah, palingan saat mengkorek kantong celana sebelum di masukkan ke dalam mesin cuci, palingan recehan tersebut di letakkan di atas meja atau dalam tempat tertentu. Jika pola, berbelanja saya atau mungkin juga anda begini setiap harinya,bisa dibayangkan berapa uang receh yang terkumpul dalam jangka waktu se bulan ? atau mungkin setahun? 

Nah, saya jadi kepikiran untuk memanfaatkan uang receh tersebut untuk investasi di reksadana. Biasanya sih, kalau Ibu melihat uang receh saya, biasanya di ambil untuk dibelanjain di pasar...hehehe...Kalau tidak kelihatan ya, selamat lah uang receh tersebut.

Saya menyediakan sebuah celengan atau tabung, biasanya sih tabung bekas pembungkus sarung. Kalau Anda pernah beli sarung, pasti ada kaleng bekasnya. Nah, dari pada di buang mending untuk menampung uang receh. Misalkan uang recehnya udah terkumpul seratus ribu. Maka, bisa jadi beberapa pilihan yang bisa anda lakukan.

Pertama, tukar ke keluarga. Tukar uang receh tersebut dengan mata uang besar dan masukkan ke rekening reksadana. Atau mungkin tukar ke kasir kantor, kasir kantor ngasih uang pecahan besar atau transfer ke rekening reksadana, uang recehnya kita kasih ke kasir...hehehe...lumayan juga uang receh yang seratus ribu udah bisa beli reksadana untuk beberapa unit.

Kedua, uang receh yang digunakan untuk belanja langsung. Kalau tadi kita ada uang receh 100 ribu, maka ketika kita mau belanja, jangan tarik langsung uang di saldo rekening, akan tetapi uang di saldo tersebut transferkan dulu ke rekening reksadana. Sementara untuk belanja pakai uang receh tersebut. Nah, kalau ini biasanya malu-malu nih, ngasih ke kasirnya...

Hehe, sebenarnya inti dari tulisan ini agar uang yang ada di rumah dari pada berserakan tidak di manfaatin mending di sedekahkan atau tabung ke reksadana atau bahkan ke saham. Toh, dengan uang 10.000 saja sudah bisa beli saham 1 lot, apalagi reksadana. Memang sih reksadana biasanya minimal pembelian di angka 100.000.

Selamat mencoba...