Semoga menjadi pelajaran bagimu teman dan bagi saya sendiri. Ya, luar biasa sebuah akibat dari suatu penundaan suatu kegiatan, bisa jadi lebih baik dan bisa jadi lebih buruk. Namun, kebanyakan lebih buruknya dari pada baiknya.

Seorang teman kuliah dahulu yang sekarang bekerja di Jakarta. Beliau merayakan lebaran di Padang se keluarga. Kakak beserta suami dan anaknya telah lebih dahulu berangkat kembali ke Jakarta selepas lebaran di Padang. Sementara temanku ini, mengambil cuti sampai tanggal 24 Juli dan Senin pada 27 Juli kembali masuk kantor. Beserta Ayah dan Ibu beliau kan kembali ke Jakarta dalam rencana di awal.

Biasanya ketika mau mudik, tentunya kita memesan tiket baik bus, kereta api atau pun pesawat di awal waktu, termasuk tiket balik. Namun, teman ini lucu banget. Beberapa kali sering balik ke Padang, tidak pernah mengambil tiket pesawat di awal waktu, seringnya mepet terus. Kebiasaan ini terulang keberapa kalinya sampai akan balik ke Jakarta. Ternyata, tiket pesawat dari Padang ke Jakarta sampai tanggal 28 Juli 2015 sudah habis terjual semua. Seandainya selasa yang lalu (21 Juli 2015) beliau jadi mengambil tiket pesawat, tentunya beliau bisa berangkat sesuai dengan waktu yang beliau rencanakan. 

Karena melakukan penundaan dan baru hari ini mencari tiket pesawat dari Padang ke Jakarta, Akhirnya terpaksa beliau tidak bisa berangkat langsung dari Bandara Internasional Minangkabau menuju Bandara Cengkareng. Beliau akhirnya dapat tiket pesawat hari Minggu (26 Juli) pagi dari Jambi ke Jakarta. Beliau mesti naik travel dulu 12 jam ke kota Jambi dan naik pesawat dari Bandara Jambi ke Jakarta. Ayah dan Ibunya terpaksa berangkat hari selasa (28 Juli) dan itu pun harus transit terlebih dahulu ke Batam. Dari pada tidak masuk kantor atau telat pada senin tanggal 27 juli, lebih baik mengambil penerbangan tersebut. Sebenarnya ada dua pilihan, pilihan satunya lagi berangkat via Pekanbaru. Karena dari segi waktu yang mepet dan harga lebih murah Jambi ke Jakarta, beliau pilih yang ini. 

Nah, luar biasanya efek dari suatu penundaan. Memang harga dapat lebih murah, namun membawa kerepotan tersendiri, serta jadwal menjadi berantakan.

Hidup semuanya harus terencana, setiap pekerjaan yang telah di jadwalkan, laksanakanlah secara langsung dan tanpa penundaan, dengan menunda, pekerjaan berikutnya pasti banyak terbengkalai. Mungkin ada cerita dari teman yang pernah menunda pekerjaan?

Menjadi seorang sales adalah profesi yang menyenangkan bagiku. Apalagi bidang usaha yang kita tawarkan kepada konsumen merupakan sesuatu hal yang baru. Inilah pertama kali bagiku berkecimpung di dunia usaha ini. Mungkin, ketika tidak ada penawaran atau bertemu dengan yang merekrut tentunya aku tidak akan pernah mengetahui betapa besarnya potensi penghasilan di usaha ini. Usaha apakah itu?, tentunya pembaca bisa melihat dari tulisan-tulisan sebelumnya yang sudah saya posting pada blog ini.

Sesuatu hal yang semestinya ku lakukan, sebelum mendatangi klien untuk penawaran awal adalah mempelajari sistem secara full. Rasanya telah banyak yang ku ketahui dari informasi kepala cabang. Namun, dari bagian IT aku terlena. Banyak informasi berharga yang tidak ku ketahui dari sana. Ternyata, kelebihan yang paling berharga dan banyak dibutuhkan oleh klien adalah pada bagian IT ini. Padahal sudah ratusan surat penawaran ku antarkan ke berbagai perusahaan. 

Seandainya kelebihan pada bagian IT ini aku ketahui sejak awal, maka bentuk format penawaran yang ku buat, tentunya lebih dahsyat lagi dan pastinya akan mendatangkan klien lebih cepat. Ya, sebagai pendatang baru pada usaha ini, strategi banting harga merupakan sebuah hal yang lumrah. Sejatinya, hal tersebut tidak perlu ku lakukan, jika kelebihan-kelebihan perusahaan secara maksimal ku ketahui. 

Tidak bermaksud mengkambing hitamkan diri atau senior di kantor. Menjadi sebuah pelajaran berharga tersendiri. Seorang sales harus lebih cepat untuk mengetahui semua hal tersebut. Apalagi ini sebagai bagian pendukung untuk jualan.

Semakin banyak kita berinteraksi dari klien, semakin banyak masukan dan menjadikan kita lebih mengenal perusahaan dan produk yang kita jual. Asalkan kita dapat merekam masukan tersebut dan mempelajari lebih detail tentangnya. Yuk, lebih dekat lagi dengan bagian atau divisi lainnya. Lontarkan pertanyaan mengenai bagian tugasnya, siapa tahu ada yang menyangkut dengan kerjaan kita. #Semangatkerja..    

Datang langsung untuk menemui si pengambil keputusan memang tidak semudah yang dibayangkan. Setidaknya penawaran yang ku berikan, dititip pada security atau sekretaris cabang. Entah disampaikan atau tidak pada bagian umum yang ku tuju. Secara positif ada sesuatu hal yang dapat ku pelajari dari sana, yaitu penawaran yang ditujukan pada perusahaan tersebut haruslah surat yang lengkap detail isinya serta jelas maksudnya dan kepada siapa penyampaiannya. 

Kebanyakan selama ini, bagian penerimaan yang di depan pada sebuah kantor perusahaan memang mengedepankan fakta yang sebenarnya tidak diketahuinya. Namun, langsung saja memberikan statement menutup diri dari suatu penawaran yang sebenarnya sangat menguntungkan perusahaan dimana dia bekerja.

Bagi saya sebagai owner perusahaan, ini adalah bagian dari penutupan diri yang membuat perusahaan kehilangan momentum untuk menerima masukan bagus dari penawaran-penawaran yang datang. 

Sebaiknya, ketika ada penawaran-penawaran yang datang pada perusahaan kita, alangkah sebaiknya disampaikan ke bagian yang berwenang dan bagian berwenang membaca penawaran tersebut. Setuju atau tidak bukan menjadi masalah. Lebih baik lagi, ketika penawaran tersebut langsung di follow-up dengan menghubungi yang memasukan penawaran untuk dapat memberikan penjelasan lebih baik lagi. Setelah mendapatkan penjelasan yang akurat dan detail jika merugikan atau sama dengan penawaran sebelumnya, silahkan untuk tidak diterima. Jika lebih baik, alangkah patut untuk di coba?