diambil  dari : islamposdotcom
Blog Riky Perdana -- Hari ini (21 Mei 2015), tak sempat membaca atau mendengar berita di televisi dari tadi pagi, hingga 30 menit yang lalu. Beberapa menit yang lalu saya membaca posting tentang pengungsi Rohingya yang diselamatkan oleh nelayan Aceh. Dan sempat ditolak oleh Angkatan Laut Indonesia dan Malaysia, walaupun mereka telah memberikan bantuan makanan dan bahan bakar, namun mereka dibiarkan terkatung di tengah lautan. 

Menjadi miris bagi saya, ketika panglima TNI Bapak Moeldoko mengatakan, " Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, maka wajib kita bantu. Kalau ada sulit air atau makanan, kita bantu, karena itu terkait human. Tapi, kalau mereka memasuki wilayah kita, maka tugas TNI untuk menjaga kedaulatan. " Sambung beliau, " Bila para pengungsi dibiarkan masuk ke wilayah Indonesia, mereka akan memunculkan persoalan sosial. Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan ini. " Lebih lengkap bisa dibaca pada postingan antiliberalnews.com yang websitenya tidak bisa lagi dibuka entah sebab apapun itu. Saya mendapatkan berita ini dari  postingan di Google Plus  oleh akun https://plus.google.com/u/0/116404506304016767864, yang menyebutkan sumbernya dari website antiliberalnews.com.

Saya membaca ini sungguh sangat miris. Memang betul untuk TNI menjaga kedaulatan negara. Saya lebih sangat menghargai dan membanggakan TNI, sekiranya para pengungsi tersebut diselamatkan dan dibawa kedaratan. Entah, pengaruh sosial apa pun terjadi nantinya, yang menjadi kekhawatiran panglima TNI. Terpenting mereka selamat dahulu. Ah, TNI kalah dengan nelayan Aceh yang luar biasa kebaikan hati mereka. TNI ku tercinta juga kalah dari Angkatan Laut Turki yang luar biasa, jauh dari belahan benua eropa sana, kapal perangnya diarahkan untuk menyelamatkan pengungsi Rohingya.(sumber : http://www.pkspiyungan.org/2015/05/turki-kirimkan-angkatan-laut-nya-bantu.html)

Dalam sebuah komentar di facebook menanggapi tulisan tentang nelayan Aceh menyelamatkan pengungsi Rohingya. Syamsul Arifin mengatakan, " Untuk Penguasa Negeri ini: " Bukan bagian dari bangsa Indonesia jika tidak mau mengulang kebesaran pendahulu bangsa ini. " Cobalah kalian belajar lebih banyak lagi tentang kebaikan pendahulu negeri ini, betapa dulu saat exodus pengungsi Vietnam karena gejolak politik (jika tidak salah kekejaman Polpot) terjadi, ada yang ke Afrika, Ke Indonesia, Ke Australia. Maka Indonesia telah dan sudah menyiapkan diri untuk menampung mereka semua di Pulan "Galang" Batam Sekarang. Di sana ada penginggalan sejarah kebesaran itu..disana ada bekas Mesjid mereka, bekas gereja mereka, dan Vihara mereka, ada bekas rumah sakit mereka..maka tenggoklah catatan sejarah kebesaran bangsa ini...agar kebesarannya dapat kita warisi..untuk tetap menjadi bangsa yang besar dan berkeprimanusiaan..

Sungguh..Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, memiliki kepribadian yang luhur. Sejarah telah membuktikannya. Maka, mari kita bantu selamatkan nyawa pengungsi Muslim Rohingya tersebut, dengan memberikan penampungan sementara, sampai kondisi mereka benar-benar segar bugar. Sembari itu, saya sangat setuju dengan Ketua Komisi I DPR Mahfud Sidik  dalam pernyataannya di JPNN (http://www.jpnn.com/read/2015/05/18/304653/Tiga-Cara-yang-Bisa-Dilakukan-Pemerintah-Tangani-Imigran-Rohingnya) yang menyatakan," Indonesia bersama Malaysia dan Thailand (dalam kasus warga Rohingya) harus bicara menekan Myanmar untuk selesaikan persoalan politik diskriminatif terhadap warga Rohingya yang sudah berdampak kepada kawasan.

Tunjukkan peran lebih Indonesia di kawasan Asia Tenggara, kalau perlu hukum Myanmar, agar tidak semena-mena terhadap eknis minoritas di negaranya. Semoga Allah memberikan keselamatan bagi muslim Rohingya, dan memberikan kebaikan serta keberkahan bagi Indonesia dan bisa membantu memberikan kedamaian bagi kawasan sekitarnya bahkan dunia. Aamiin.
Blog Riky Perdana -- Pada hari ini (18 Mei 2015), sejumlah buku pesananku dari bukukitadotcom datang. Ada salah satu buku, yang baru dan sedang dibaca pada malam ini, yaitu Catatan Harian Guru : Menulis Itu Mudah, karya Keke Taruli Aritonang, terbitan penerbit Andi. Dalam buku tersebut ada sesuatu hal yang menarik, yaitu : proses penulis buku belajar menulis dan mengajarkan anak didiknya menulis dirangkum dalam sebuah catatan harian. Sebuah pengalaman nyata penulis yang bisa kita ketahui dan ambil pelajarannya dari sana.

Sebenarnya dunia blogging sudah lama ku kegeluti. Lumayan banyak juga tulisan yang telah dibuat, walaupun tulisannya kurang bagus. Termasuk puluhan tulisan lainnya yang tidak bisa diposting, lantaran isinya sangat private. Nah, inspirasi baru telah ditemukan, sekarang saatnya kembali mengkobarkan semangat, untuk selalu mengisi blog yang telah dibangun dengan tulisan sendiri. 

Ditambah profesi diri sebagai tenaga pemasaran dan konsultan keuangan pada saat ini, bisa menulis alangkah lebih bagus lagi. Jadi, banyak pengetahuan dan pengalaman soal pemasaran dan keuangan yang bisa diberitahu. Dari masukan dan komentar pembaca setia blog Riky Perdana, juga bisa membagi pengetahuan dan pengalaman, sehingga bertambah pula pengetahuan pemilik blog ini.

Ya, mungkin tulisannya kurang berbobot pada blog ini, mohon pembaca untuk memaklumi. Karena sejatinya esensi awal penulis membangun blog ini, ya sebagai media promosi dan pembelajaran untuk kepenulisan. Karena profesi sebagai penulis merupakan salah satu tujuan dari pemilik blog Riky Perdana.  
Blog Riky Perdana -- "Ingat 30 Persen di depan mata." Kalimat itu selalu dilantunkan. Setiap usai menghubungi kurirnya. Awalnya penulis tidak mempedulikan, karena selalu diulang-ulang menjadi perhatian juga akhirnya. Ada apa dengan 30 Persen? Ternyata 30 persen adalah hitungan dari bonus tahunan yang diterima seluruh pekerja di bawah komando beliau, ya "Si bujang" (nama samaran). 

Uang merupakan salah satu motivasi dalam bekerja. Uang dapat menciptakan semangat kerja unlimited, yang bisa menghasilkan produktifitas yang luar biasa. Omset naik berkali-kali lipat, keuntungan pun akan mengikuti. Keuntungan tersebut harus lah menjadi bagian dari seluruh komponen pekerja dalam sebuah perusahaan tersebut. 

Jika dalam satu tahun, perusahaan mampu mencetak keuntungan bersih 1 M saja, dan 30 persen dari keuntungan tersebut adalah milik pekerja. Alangkah indahnya romantisme yang terjalin antara pekerja dan pemilik modal. 

Saya menyaksikan sendiri pada sebuah perusahaan ekspedisi. "Seseorang" dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal waktu dan tidak merasakan letihnya dalam bekerja. Seolah waktu tidak ada batasannya. Selalu terbayang betapa besar peluang pengembangan usahanya ke depan. Waktu 8 jam sehari tak terasa begitu cepatnya berlalu. Padahal, masih banyak yang belum terjamah olehnya. 

Seolah tanpa perlu tekanan dari manajamen perusahaan, beliau dengan sadar memacu diri dan team untuk memberikan keuntungan dari besar bagi perusahaan. Aktif menjalin relasi dengan semua orang, tentu pilihan mitra dengan orang-orang terbaik pula. Fasilitas dan support sistem terbaik yang diberikan, menambah daya dobrak yang kuat dalam bekerja bagi karyawan.   

Saya optimis, dalam satu tahun ini mereka bisa masuk dalam 3 besar terbaik dalam bidangnya. Pada tahun besok tidak ada alasan bagi mereka untuk merebut posisi Pertama dan bertahan pada tahun-tahun berikutnya, jika kondisi saat ini dipertahankan serta ditingkatkan terus menerus oleh manajemen perusahaan. Tetap semangat Bro..